Refleksi NU Pasca Muktamar Ke 32 Makasar
Rasululloh SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud mengatakan bahwa :"Bani Israil terpecah belah menjadi 72 Golongan dan ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk nereka kecuali satu golongan". Kemudian para sahabat bertanya ; "Siapakah mereka itu wahai Rasululloh?", lalu Rosululloh menjawab : "Mereka itu adalah Maa Ana 'Alaihi wa Ashabi" yakni mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga dilakukan oleh para sahabatku.
Apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah tersebut dikemudian hari terbukti benar, khususnya mengenai umatnya, muncul lah Khawarij, Syi'ah, Mu'tazilah, Wahabi, dan masih banyak lagi.
Latar Belakang “Istifroq” dalam Islam
Kalau kita benar-benar mau menelaah dan mencermati apa yang telah dipantulkan oleh kaca sejarah tersebut diatas, maka akan kita dapati bahwa yang menjadi latar belakang munculnya istifroq tersebut adalah faktor politik.
Sebagaimana diketahui munculnya Khawarij adalah pada periode awal kepemimpinan kholifah ke IV Sahabat ’Ali Karromallohu wajhah, dimana saat itu para pendukung sahabat Utsman bin Affan menganggap bahwa ’Ali lamban dan setengah hati dalam menangani kasus pembunuhan Utsman bin Affan, kekecewaan itupun pada akhirnya menjadi Snow Ball yang semakin lama semakin membesar, hingga puncaknya adalah terjadinya perang Shiffin yang melibatkan dua kubu, yaitu kubu ’Ali versus kubu Muawiyah bin Abi Sofyan dan Sayyidah Aisyah, pendek cerita kelompok yang setia mendukung Utsman bin Affan kemudian bermetamorfosis menjadi Khawarij, dan kelompok yang mendukung ’Ali untuk kemudian disebut Syi’ah.
Berturut-turut setelah itu muncul Mu’tazilah, adalah sebuah kelompok yang dipimpin oleh Washil bin Atha’, berawal dari perselisihan pendapat dengan gurunya yaitu Seorang ulama dari golongan Tabi’in bernama Al Imam Al Bashry mengenai permasalahan ”apakah seorang mukmin yang telah melakukan dosa besar, tetap dianggap mukmin atau tidak?”, kemudian perselisihan itu berujung pada pengucilan Washil bin Atha’ oleh gurunya hingga ke pojok masjid dan dipisah dengan jama’ah yang lain, sejak itulah Washil disebut ”Mu’tazilah” yaitu orang yang diasingkan.
Hingga dewasa ini kita disuguhi apa yang disebut dengan Neo-Wahabi, yaitu gerakan Islam Radikal-Fundamentalis atau boleh dibilang juga Islam Non-Mainstream atau Transnasionalisme, yang terakhir disebutkan merupakan suatu istilah yang populer belakangan ini di kalangan kaum nahdliyin, Istilah ini diperuntukkan bagi ideologi dan gerakan sosial politik dan keagamaan yang lintas negara. Namun, dalam konteks NU, istilah “transnasionalisme” diacu dan dirujukkan pada ideologi dan gerakan sosial politik dan keagamaan yang tunggal dan mendunia dari Timur Tengah.
NU Pasca Muktamar Ke 32 Makasar
Sengaja penulis uraikan latar belakang beberapa peristiwa yang menyebabkan istifroq, dari pemaparan tersebut bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa terjadinya Istifroq adalah dilatar belakangi factor politik, persoalan yang disebabkan karena factor politik jika tidak disikapi dengan bijak dan dewasa maka akan memunculkan sesuatu yang berakibat vatal, untuk kemudian dijadikan pegangan, “pepiling” agar kita tidak terperosok pada lubang yang sama.
Sebagaimana Firman Allah SWT “Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. At-Taubah, 9:70).
Alasan penulis mengambil ayat ini adalah untuk manganalogikan peristiwa tersebut diatas dengan apa yang diterangkan dalam ayat ini, yang menjadi inti maksud dari ayat ini adalah agar kita selalu belajar dari sejarah untuk tidak mengulang-ulang kesalahan yang sama.
Nah, diakui atau tidak kondisi NU hari ini, pasca Muktamar ke 32 di Makasar tempo hari, dengan terpilihnya duet kepemimpinan KH. Sahal Mahfudz dan KH. Said Aqil Syiroj, mirip dengan proses terjadinya peristiwa “Istifroq” diatas, yaitu memunculkan rasa ketidak puasan beberapa pihak sehingga berpotensi menyebabkan munculnya “Istifroq” dalam tubuh NU, karena potensi itu sempat muncul kepermukan, adalah salah satu Pengurus Wilayah (PWNU) menyatakan menolak hasil Muktamar dan mengusulkan untuk menggelar Muktamar Luar Biasa, dengan berbagai macam alasan tentunya walaupun kemudian hal itu dapat diselesaikan, namun menurut penulis yang menjadi latar belakangnya tetap sama dengan apa yang menjadi latar belakang “Istifroq” pada periode-periode awal Islam, yaitu factor politik.
Entah karena trand organisasi masyarakat dewasa ini mengharuskan demikian tabi’ pada parpol atau karena sahwat politik warga nahdliyyin yang terlalu besar akan tetapi tak tahu harus menyalurkannya kemana, hingga menggiring organisasi NU ke ranah politik praktis, sampai-sampai sisitem atau mekanisme yang dipakai untuk memilih Rais ‘Am dan Ketum PBNU sangat-sangat politis, tak pelak nuansa politis pada Muktamar ke 32 Makasar tempo hari tidak bisa dihindarkan, dan yang fatalnya lagi Muktamar tersebut menyisakan persoalan-persoalan ketidak puasan kalau tidak boleh dikatakan “persoalan politis” berkaitan dengan aksi dukung mendukung, bahkan sampai melakukan “black campaign” dengan menyebarkan berita bahwa Kang Said itu orang Syi’ah dan agen yahudi kok dijadikan Ketum PBNU, sangat-sangat politis, penulis merasakan seolah-olah NU sekarang tidak lagi menjadi Jam’iyyah diniyyah yang bertujuan membumikan ajaran Islam Ahlussunnah wal jama’ah namun telah berubah menjadi Jam’iyyah Siyasiyyah yang berorientasi pada kekuasaan, maka dengan sendirinya komitmen untuk “kembali ke khittah” hanya akan menjadi bualan belaka.
Besar harapan penulis bahwa NU adalah Jam’iyyah Diniyyah dan semangat “komitmen kembali ke khittah” benar-benar terwujud, “Fayanbaghi” para warga NU utamanya para elit NU dapat berkaca pada sejarah masa silam untuk tidak terperosok pada lubang yang sama, juga bukan berarti menjadi nahdliyyin lantas apolitis, namun semuanya harus proporsional, ada waktu dan tempatnya, bijak dan dewasa dalam politik, terus terang dimata penulis warga NU masih jauh dari kata dewasa dalam berpolitik meskipun pelan-pelan merambat kesana, masih belum bisa menerima perbedaan pendapat dan pemikiran, meskipun jika diminta ceramah tentang perbedaan adalah rahmat “Fasikh puol” namun prakteknya nihil, nahdliyyin juga belum dewasa dalam berorganisasi.
NU memang sebuah organisasi yang unik, untuk memahami NU tidak cukup dengan melakukan pendekatan secara teoritis, karena NU terdiri dari dua wajah, yaitu NU Jam’iyyah dan NU Jama’ah, boleh dibilang NU adalah pedang bermata dua, namun demikian penulis tetap bangga menjadi kader NU, dan untuk selanjutnya penulis berharap agar NU pada masa-masa mendatang bisa lebih dewasa dalam berpolitik dan juga dalam berorganisasi, karena NU sudah saatnya menjadi Fa’il dan tidak lagi selalu menjadi Maf’ul, dan selanjutnya persoalan yang muncul pasca Muktamar ke 32 Makasar dapat disikapi dengan bijak dan dapat segera diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Rembang, 29 Mei 2010







Comments
RSS feed for comments to this post